Belakangan media massa Bandung menyoroti suatu gelaran bersejarah di tanah Bandung tahun ini, yaitu Pemilihan Bupati Bandung 2010-2015. Lantas apa pengaruhnya pemilihan bupati tersebut bagi kampus yang terletak di perbatasan ini?(lebih tepatnya dijepit Kabupaten dan Kota Bandung)
Kita telusuri dulu selayang pandang Kabupaten Bandung ini. Mungkin banyak hal yang belum kita ketahui, alangkah lucunya bila kita sudah lama bermukim(maksudnya berkuliah) di Bandung tapi banyak yang belum ketahui tentang Kabupaten Bandung,,(padahal ngakunya sih “aing mah kuliahna di Bandung euy“)
Kabupaten lahir melalui Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada ping Songo tahun Alif bulan Muharam atau sama dengan hari sabtu tanggal 20 April tahun 1641 M, sebagai Bupati Pertama pada waktu itu adalah Tumenggung Wiraangunangun (1641-1681 M) sehingga 20 April diepringati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bandung. Dalam hikayatnya kawasan Karapyak(kini:Dayeuhkolot) pernah ditetapkan sebagai ibu kotanya, dan sempat pula menetapkan Baleendah sebagai ibukota sebelum akhirnya Soreang menjadi ibukota s.d. sekarang. Melalui UU Nomor 22 tahun 1999 terbentuklah Kota Cimahi sebagai wilayah otonomi yang berdiri sendiri dan tahun 2007 melalui UU nomor 12 tahun 2007 dilakukan pemekaran wilayah Kabupaten Bandung Barat yang beribu kota di Ngamprah. Maka tak heran bila secara kultur nampak masih kental budaya yang kuat diantaranya.
Silih berganti pemegang tampuk pemerintahan maka evolusi di segala penjuru mewarnai kabupaten yang beribu kota di Soreang ini. Berbagai isu ikut menyemarakan nama Kabupaten Bandung di blantika tanah air, misalnya saja dugaan korupsi dalam pembangunan stadion si Jalak Harupat, prestasi Persikab Kabupaten Bandung yang terus merosot, gempa Tasikmalaya yang ikut menjamah perumahan di Pengalengan, kasus mutilasi yang mencuat beberapa pekan lalu, predikat sebagai salah satu kota “terkotor” di Indonesia, lolosnya Kabupaten Bandung ke 10-besar kota terkorup di Indonesia, maupun digelarnya gebyar kejuaraan teknologi nasional di kampus teknologi terkemuka di kabupaten Bandung dua kali beruntun, yaitu IT Telkom(sekali lagi IT Telkom).
Bupati Bandung saat ini adalah Obar Sobarna, S.I.P. didampingi H. Yadi Srimulyadi sebagia wakil bupati. Kabupaten Bandung terdiri atas 31 Kecamatan yang tersebar merata di kondisi beragam, yaitu Arjasari, Baleendah, Banjaran, Bojongsoang, Cangkuang, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cileunyi, Cimaung, Cimenyan, Ciparay, Ciwidey, Dayeuhkolot(a.k.a. DaKo), Ibun, Katapang, Kertasari, Kutawaringin, Majalaya, Margaasih, Margahayu, Nagreg, Pacer, Pameungpeuk, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu, Rancabali, Rancaekek, Solokan Jeruk, Soreang..((hayo….kampus mewah ini masuk yang mana yo??))
Pasti yang banyak yang belum tahu maksud dari lambang kabupaten yang berusia 369 tahun ini. Menurut Perda Nomor 11 tahun 1956, lambang berbentuk perisai dengan 4 bagian,yaitu:
I. Bagian kanan atas berlatar kuning emas dengan gambar gunung (Gb. Tangkuban Perahu) berwarna hijau, melambangkan Kabupaten Bandung termasyhur karena tanahnya subur di daerah bergunung-gunung.
II. Bagian melintang bergerigi, merupakan bentuk bendungan kokoh kuat berwrna hitam. Melambangkan masyarakat Kabupaten Bandung berpendirian yang kokoh dan kuat, baik secara fisik dalam membendung hawa nafsu.
III. Pohon kina berwarna hijau dan berlatar belakang merah yang melambangkan di Kabupaten Bandung kaya akan air, baik air maupun air danau. Kabupaten Bandung di lintasi oleh sungai Citarum, sungai Cikapundung, dab sungai-sungai kecil lainnya. Kabupaten Bandung danau/situ Patengang, Situ Cileunca, Situ Lembang, Situ Ciburuy, dan danau-danau lainnya.
IV. Dibawah perisai tertulis dalam pita kuning : REPEH RAPIH KERTARAHARJA, artinya :
• REPEH : Suasana kehidupan yang aman dan tentram.
• RAPIH : Suasana kehidupan rukun dan tertib dalam lingkungan yang bersih, sehat dan asri.
• KERTARAHARJA : Tatanan kehidupan sejahtera lahir dan batin seimbang, serasi adil dan merata.
Nah…itulah sekelumit tentang Kabupaten Bandung. Barangkali rekan-rekan ingin menambahkan silahkan kita sharing..nanti bisa ditambahkan di catatan ini.Kemudian mengenai Pilkada Bandung tentunya bakal menentukan nasib 5 tahun Bandung ke depan, akankah semakin jauh melangkah ke depan, jalan di tempat ataukah kabur ke belakang.
Ada 8 pasang cabup dan cawabup :
1. Marwan Efendiri -Asep Nurjaman (Independen)
2. Atori Herdianajaya-Dadi Gyardani Jiwapraja (Partai Demokrat)
3. Tatang Ruswandar-Ujang Sutisna (Independen)
4. Deding Ishak-Siswanda Harso Sumarno (PAN, PKB, PPP, Hanura, dan PBR)
5. Yadi Srimulyadi-Rusna Kosasih (PDIP-Gerindra)
6. Asep Soleh-Dayat Somantri (Independen)
7. Dadang M Naser-Deden Rukman Rumaji (Golkar)
8. Ridho Budiman Utama-Dadang Rusdiana (PKS dan PBB)
Masa kampanye ke-8 pasang calon tersebut akan dimulai pada 11 hingga 25 Agustus 2010. Sejauh ini para tim sukses sudah “start jongkok” untuk menggaet suara dengan berbagai metode, ada yang menargetkan “kantung suara” dari kalangan menengah ke bawah, ada yang bermain efek “software olah grafis” di pamflet dan baligo, ada juga yang mengumpulkan data kelemahan lawan. Sungguh “duwegawe” ini tak hanya urusan “otak” tim sukses semata, tapi juga menjadi komoditas bisnis dimana tawaran konveksi melonjak, sablon makin disibukan order sana order sini. Dan para kuli tinta(berhubung udah pakai komputer maka diganti apa y??) disibukan dengan segala peliputan dan profil tiap calon.
Sejumlah LSM jauh-jauh hari menyebar mata-mata untuk menelusuri Pilkada ini agar sesuai aturan yang ada. Malahan beberapa suara melontarkan “siapapun yang terpilih, semoga pilkada ini bisa aman, damai, dan sportif”. Kenyataan di lapangan memang “memamerkan” segala rupa bentrokan antar pendukung calon bupati/wali kota di berbagai daerah dengan modus operandu yang seragam, yaitu “kecurigaan adanya kecurangan”. Hal ini jelas menjadi mimpi buruk yang semoga hanya mimpi di Pemilihan Bupati ini.
Dan termasuk mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang mayoritas adalah kaum “imigran” dari luar Kabupaten Bandung tidak semuanya mempunyai hak pilih lantaran beberapa faktor, terutama kepemilikan KTP Bandung. Tidak semua diantara kita paham benar calon-calon tersebut, mungkin lantaran keasyikan berkuliah kita menjadikan nama-nama tersebut ada yang terasa asing ataupun sepak terjangnya tidak kita dengar. Bahkan diantara kita pun tidak terdaftar sebagai pemilih di Pilkada yang saat ini masih menggunakan “teknologi mencoblos”.
Namun bukan berarti Pilkada ini bakal seperti angin berlalu saja. Sebagai mahasiswa partisipasi berbagai cara masih(dan akan selalu) dibutuhkan masyarakat. Kekritisan kita dalam menangkap sinyal-sinyal kecurangan jadi bantuan yang ditunggu KPUD kabupaten Bandung. Dan apabila menengok statistik, “berapa jumlah perguruan tinggi di ranah Kabupaten Bandung?”… lantas akankah mahasiswa IT Telkom ini acuh tak acuh dengan hajatan itu? World Class University yang digembar-gemborkan selama ini dengan trackrecord kampus yang luar biasa. Tuan rumah GemasTIK I dan II plus juara umum di episode pertama, tuan rumah Pimnas 2004 plus langganan final tiap tahun, bahkan jawara di turnamen teknologi internasional(ex: Imagine Cup), dan prestasi-prestasi yang berderet di curiculum vitae kampus berbasis teknologi(sekaligus produsen insinyur berprestasi) ini jangan melunturkan jiwa “memiliki” Kabupaten Bandung ini. Pusat pemerintahan yang jauh dari kampus(kurang lebih 45 menit via mesin roda dua) bukan alasan untuk lupa daratan.
Jika muncul anekdot “siapa bupatinya ga ngaruh ma kampus ini”, maka itu salah. Permasalahan sosial, kebersihan, dan banjir yang belakangan(malahan dari dulu) menjangkiti Bandung tak ayal bakal terus mewarisi(bisa saat reuni 10 tahun lagi masalah tersebut masih dilestarikan) bila Pilkada ini melahirkan “orang yang salah”.
Waktu pemilihan sendiri akan dilakukan pada 29 Agustus 2010 dengan cara mencoblos. Mencoblos? Ya.. Metode ini dianggap lebih mudah dilakukan dibanding usulan teknologi(e-voting) yang memerlukan waktu lebih lama untuk penyiapan logistik dan sosialisasi.
Sukseskan Pilkada Bandung 2010 yang cerdas dan bersih.
~BEM KBM IT Telkom 2010 dari pelbagai sumber~